Tak ada salahnya memang menuruti itu, Ku bakar rokok sebagai pengalih rasa yang kuterima tadi. "Ah tai lah, pengalihan ini gak jalan". Aku tetap mencari untuk menyirnakan kaku. Ini bukan aku, semakin dicari, bingung. "Hus, lu ngapa si ?!", sapaan biasa para kameo dalam setiap cerita. Ahsan namanya. Ku kira dia bangsawan cina dengan otak seadanya berparas persis boyband korea pada masanya. Tapi, setelah ku telusuri ternyata dia bukan bangsawan dan dia bukan orang cina. Yasudah lah, suka suka aku mau manggil dia apa. Dia juga gak bakal marah. Aku tau itu karena aku pernah bakar jemb*tnya. Dia malahan berterima kasih. Aku juga.
Aku malas membalas pertanyaanya. Ku jawab dengan senyum seadanya dengan masih memegang rokok disela jemari. "Ah elu, cengar cengir cepirit doang", ya memang mulutnya disetting sama tuhan buat asal bunyi. "Cewek yang tadi kan? yang liatin lu dari lu duduk sampe bediri lagi?" tambahnya. "Kaku lu hus kayak bh baru, kenalan aja si tanya namanya". Memang ide menarik sih, tapi belum saatnya untuk realisasi, pikirku. "Sableng lu yak, mana ada yang ngeliatin gua yang begini kalo gak nyari jijiknya doang. Atau dia lagi neliti kelakuan primata terhadap manusia" ujarku untuk mengakhiri obrolan imajiner ini.
-Dua-
No comments:
Post a Comment